browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

INTISARI MATERI

Posted by on Monday, 20 June 2011

Orang yang merenungkan sekelilingnya dengan kritis dan bijaksana akan menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini — benda hidup atau-pun mati — pasti diciptakan. Sehingga pertanyaannya adalah: “Siapakah pencipta semua ini?”

Jelas bahwa “fakta penciptaan” yang tampak dalam setiap aspek alam semesta, mustahil hasil ciptaan alam semesta itu sendiri. Contohnya, seekor kutu tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Sistem tata surya tidak dapat menciptakan atau mengorganisir diri sendiri. Tanaman, manusia, bakteri, sel darah merah dan kupu-kupu juga tidak dapat menciptakan diri sendiri. Kemungkinan bahwa semua ini bermula “secara kebetulan” bahkan tidak terbayangkan sama sekali.

Oleh karena itu, kita berkesimpulan: segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang kita lihat dapat menjadi “pencipta” diri sendiri. Pencipta berbeda dan lebih unggul daripada semua yang kita lihat. Kekuatan Pencipta tidak terlihat tetapi keberadaan dan tanda-tandanya terungkap dalam segala sesuatu yang ada di alam.

Orang-orang yang menolak keberadaan Allah tidak sependapat tentang hal ini. Orang-orang ini terkondisikan untuk tidak mempercayai keberadaan-Nya kecuali mereka melihat-Nya dengan mata kepala sendiri. Kaum ini, yang mengabaikan fakta “penciptaan”, terpaksa mengabaikan aktualitas “penciptaan” yang terwujud di seluruh alam semesta dan secara keliru membuktikan bahwa alam semesta dan kehidupan di dalamnya tidak diciptakan. Teori evolusi merupakan contoh utama usaha mereka yang sia-sia.

Kesalahan mendasar dari mereka yang mengingkari Allah dilakukan pula oleh banyak orang yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh menolak keberadaan Allah tetapi mempunyai persepsi salah tentang-Nya. Mereka tidak mengingkari penciptaan tetapi memiliki kepercayaan takhayul mengenai “di mana” Allah. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa Allah berada di “langit”. Mereka diam-diam membayangkan bahwa Allah berada di belakang suatu planet sangat jauh dan sewaktu-waktu mencampuri “urusan duniawi”. Atau barangkali Allah tidak turun tangan sama sekali: Dia menciptakan alam semesta lalu meninggalkannya begitu saja, dan manusia dibiarkan menentukan nasibnya sendiri.

Sementara itu, kalangan lain mendengar bahwa, Allah berada “di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maknanya. Mereka berpikir bahwa Allah mengelilingi segala sesuatu seperti gelombang radio atau gas yang tidak dapat diraba dan dilihat.

Akan tetapi, semua gagasan ini dan juga kepercayaan lain yang tidak bisa menjelaskan “di mana” Allah (dan mungkin karena itu mengingkari keberadaan Allah) beranjak dari kesalahan yang sama. Mereka berprasangka tanpa dasar sehingga sampai pada pemahaman yang salah tentang Allah. Prasangka apakah itu?.

Prasangka ini tentang alam dan sifat-sifat materi. Kita demikian terbiasa dengan anggapan tentang keberadaan materi sehingga kita tidak pernah memikirkan apakah materi benar-benar ada atau hanya bayangan. Ilmu pengetahuan modern menghancurkan prasangka ini dan mengungkap sebuah realitas yang sangat penting dan mengesankan.

Dunia Sinyal-Sinyal Elektris

Semua informasi yang kita miliki tentang dunia tempat kita hidup disampaikan kepada kita melalui lima indra kita. Dunia yang kita ketahui terdiri dari apa yang dilihat mata, diraba tangan, dicium hidung, dikecap lidah, dan didengar telinga kita. Kita tidak pernah berpikir bahwa dunia “luar” mungkin berbeda dengan apa yang disampaikan indra kepada kita, karena kita telah bergantung hanya kepada kelima indra tersebut sejak lahir.

Akan tetapi, penelitian modern dalam berbagai bidang ilmu menunjukkan pemahaman sangat berbeda dan menimbulkan keraguan serius tentang indra kita serta dunia yang kita pahami dengannya.

Titik awal pendekatan ini adalah bahwa gagasan “dunia luar” yang terbentuk dalam otak kita hanya sebuah respon yang diciptakan oleh sinyal-sinyal elektris. Merahnya apel, kerasnya kayu, bahkan, ibu, ayah, keluarga Anda dan segala sesuatu yang Anda miliki, rumah, pekerjaan, kalimat-kalimat dalam buku ini, hanya terdiri atas sinyal-sinyal elektris.

Frederick Vester menjelaskan apa yang telah dicapai ilmu pengetahuan tentang subjek ini:

Pernyataan-pernyataan beberapa ilmuwan bahwa “manusia adalah sebuah citra, segala sesuatu yang dialaminya bersifat sementara dan menipu, dan alam semesta ini adalah bayangan”, tampaknya dibuktikan oleh ilmu pengetahuan mutakhir.

Untuk memperjelas permasalahan ini, mari kita pikirkan indra penglihatan kita, yang memberikan informasi paling luas tentang dunia luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *